Kalau kita ngobrolin lagu daerah di Indonesia, terutama dari Riau, pasti satu nama yang nggak pernah absen: Soleram. Lagu ini kayak soundtrack masa kecil banyak orang. Dari acara tujuh belasan di sekolah, nyanyian pengantar tidur, sampai jadi bahan guyonan ringan. Tapi, pernah nggak sih, di tengah nyanyian "soleram, pafikotatahan.org soleram, soleram yang baik hati" itu, terlintas pertanyaan: soleram berasal dari mana sih sebenernya? Apa cuma sekadar lagu daerah Riau biasa, atau ada cerita yang lebih dalam lagi?
Nah, ternyata, jawabannya nggak sesederhana yang kita kira. Menelusuri asal-usul Soleram itu seperti membuka peti harta karun budaya yang penuh dengan percampuran sejarah, bahasa, dan emosi. Ini bukan cuma soal notasi dan lirik, tapi tentang perjalanan sebuah melodi yang berhasil menyatukan banyak hati.
Lebih Dari Sekadar "Soleram Yang Baik Hati": Makna di Balik Lirik
Sebelum kita selami lebih dalam soal asal-usulnya, mari kita pahami dulu apa yang sebenarnya kita nyanyikan. Lirik Soleram seringkali dinyanyikan dengan versi yang sedikit berbeda-beda, tapi intinya kurang lebih begini:
- "Soleram, soleram, soleram yang baik hati"
- "Janganlah dicium mulutnya, nanti menangis sendiri"
- "Soleram, soleram, anaknya dua"
- "Yang seorang duduk di pangkuan, yang seorang lagi digendong selalu"
Kalau didenger sekilas, kayaknya lagu tentang seorang perempuan baik hati bernama Soleram yang punya dua anak. Tapi, di sini letak keunikannya. Kata "Soleram" sendiri bukanlah nama orang dalam bahasa Melayu. Ini adalah petunjuk pertama bahwa soleram berasal dari akar budaya yang mungkin berbeda. Banyak ahli berpendapat bahwa "Soleram" adalah adaptasi atau pelafalan lokal dari kata-kata dalam bahasa lain, yang nanti akan kita bahas. Liriknya yang sederhana justru punya daya pikat universal: tentang kasih sayang ibu, kelembutan, dan sedikit "ancaman" lucu agar tidak mencium si ibu (atau si Soleram) agar tidak menangis sendiri, mungkin karena cemburu atau kangen.
Dugaan Kuat: Jejak Portugis di Nusantara
Ini nih teori yang paling banyak dipercaya dan paling menarik. Banyak peneliti budaya dan musikolog yakin bahwa soleram berasal dari pengaruh Portugis yang pernah berinteraksi kuat dengan masyarakat Nusantara, khususnya di pesisir timur Sumatera dan Malaka, berabad-abad yang lalu.
Kata "Soleram" diduga kuat merupakan perubahan bunyi dari frasa Portugis "os olhos ram" atau varian seperti "sol e ram". "Os olhos" artinya "mata", sementara "ram" bisa jadi kependekan dari "ramar" yang terkait dengan kerinduan atau mata yang merindukan. Jadi, bisa diartikan sebagai "mata yang merindukan" atau "kerinduan di mata". Bayangkan, pelaut atau pedagang Portugis dulu menyanyikan lagu kerinduan ini, lalu diadopsi dan dilafalkan ulang oleh masyarakat lokal menjadi "so-le-ram" yang lebih mudah diucapkan. Proses adaptasi semacam ini sangat umum terjadi dalam sejarah musik dunia.
Melodinya sendiri juga punya nuansa fado atau lagu rakyat Portugis yang khas dengan irama sedih dan merindu. Coba nyanyikan Soleram dengan tempo lambat, rasanya ada nuansa melancholic yang dalam, bukan? Ini semakin menguatkan teori hubungannya dengan budaya Portugis.
Teori Lainnya: Dari Persia Hingga Sekadar Nada Pengasuh
Selain teori Portugis yang kuat, ada beberapa jalur cerita lain yang juga menarik untuk dipertimbangkan. Budaya itu dinamis, dan seringkali kebenarannya adalah gabungan dari banyak aliran.
Jalur Perdagangan dari Timur Tengah
Beberapa sejarawan melihat kemungkinan lain. Kata "Ram" bisa merujuk pada "Rama", sebuah istilah yang juga ada dalam budaya Persia/India yang berarti "tercinta" atau "cantik". Dengan jalur perdagangan rempah yang sangat ramai, bukan tidak mungkin pengaruh nada-nada dari Timur Tengah juga masuk dan berbaur. Namun, bukti linguistik untuk teori ini tidak sekuat teori Portugis.
Lagu Pengasuh (Nina Bobo-nya Riau)
Pandangan yang paling praktis adalah bahwa Soleram memang murni lagu pengasuh atau lullaby dari budaya Melayu. Liriknya yang repetitif dan menenangkan, plus pesan untuk tidak mengganggu sang ibu (agar anak tidak menangis sendiri), sangat cocok dengan fungsi lagu pengantar tidur atau lagu untuk menenangkan anak. Dalam konteks ini, "Soleram" bisa jadi memang nama panggilan sayang atau bahkan kata yang tidak memiliki makna literal, seperti "nina bobo". Fungsinya lebih pada bunyi dan ritme yang menenangkan.
Kenapa Soleram Bisa Melekat Begitu Dalam?
Pertanyaan selanjutnya: dari sekian banyak lagu daerah, mengapa Soleram yang bisa sepopuler ini, bahkan di luar Riau? Jawabannya ada pada kombinasi yang sempurna.
Pertama, melodinya yang sederhana dan mudah diingat. Interval nadanya nggak neko-neko, sehingga mudah dinyanyikan oleh siapa saja, dari anak kecil sampai orang dewasa. Kedua, liriknya yang membingkai cerita mini. Ada tokoh (Soleram), ada situasi (punya dua anak), dan ada "konflik" kecil (jangan dicium, nanti menangis). Ini membuat lagu punya cerita, bukan sekadar kumpulan kata. Ketiga, dan yang paling penting, adalah rasa. Entah itu rasa rindu ala Portugis atau rasa sayang ibu ala Melayu, lagu ini berhasil menyentuh emosi dasar manusia. Ia bisa dinyanyikan dengan riang di pesta, atau dengan haru oleh seorang ibu.
Proses di mana soleram berasal dari percampuran budaya justru menjadikannya kaya dan relatable untuk banyak orang. Ia menjadi milik bersama.
Dari Mana pun Asalnya, Soleram Kini adalah Indonesia
Di sinilah keindahan budaya bekerja. Mungkin kita tidak akan pernah tahu 100% titik awal yang pasti dari melodi ini. Apakah dari seorang pelaut Portugis yang merindukan kampung halamannya, atau dari seorang ibu Melayu yang mendendangkan lagu untuk anaknya. Namun, yang terjadi selanjutnya adalah sebuah proses naturalisasi yang sempurna.
Soleram telah diakui secara resmi sebagai lagu daerah dari Riau. Ia diajarkan di sekolah-sekolah, dinyanyikan dalam upacara adat, dan menjadi identitas budaya Melayu Riau. Proses adopsi dan adaptasi ini adalah bukti nyata bagaimana budaya Nusantara menyerap, memfilter, dan mengolah pengaruh luar menjadi sesuatu yang baru dan khas. Soleram berasal dari sebuah pertemuan budaya, namun ia tumbuh dan berkembang menjadi jiwa dari sebuah tempat.
Lagu ini mengajarkan kita bahwa identitas itu cair dan terbentuk dari interaksi. Ia tidak kaku. Ke-Indonesia-an kita sendiri adalah mosaik yang indah dari berbagai pertemuan seperti ini.
Menyanyikan Soleram di Era Sekarang
Di tengah gempuran lagu-lagu viral dan trend musik global yang cepat berganti, posisi Soleram tetap istimewa. Ia seperti sebuah anchor, penanda pengingat. Banyak musikus muda yang mengaransemen ulang Soleram dengan genre jazz, pop, atau bahkan elektronik. Ini bukan merusak, tapi justru menghidupkannya kembali, membuktikan bahwa lagu ini punya struktur musikal yang kuat dan fleksibel.
Setiap kali kita menyanyikan "soleram, soleram…", secara tidak sadar kita sedang menjadi bagian dari rantai sejarah yang panjang. Kita melanjutkan tradisi lisan, menyambung sebuah cerita yang mungkin sudah dimulai di atas kapal dagang berabad silam. Itu sesuatu yang cukup magis, bukan?
Jadi, lain kali kamu mendengar atau menyanyikan Soleram, coba resapi lagi. Di balik nada-nada sederhannya, tersimpan pelayaran lintas samudera, kerinduan seorang pelaut, dan kelembutan seorang ibu. Ia adalah pengingat bahwa hal-hal yang paling menyentuh hati seringkali datang dari cerita yang paling tidak terduga. Dan, pada akhirnya, terlepas dari semua teori tentang dari mana soleram berasal dari, yang pasti, ia sekarang telah mendarah daging sebagai salah satu mutiara kecil warisan budaya kita yang paling berharga.