Dari Gondang hingga Ole-ole: Koleksi Alat Musik Sumatera Utara yang Bikin Kagum

Kalau ngomongin Sumatera Utara, yang langsung keinget pasti Danau Toba, Batak, sama rendangnya yang nendang. Tapi, jangan salah, di balik keindahan alam dan kuliner yang menggoyang lidah, ada kekayaan lain yang justru bisa didengar: bunyinya. Ya, dunia alat musik Sumatera Utara itu seperti harta karun yang masih banyak belum terekspos. Nggak cuma sekadar pengiring lagu, setiap alat musik di sini punya cerita, punya jiwa, dan punya peran yang nggak tergantikan dalam upacara adat, ritual, sampai sekadar hiburan di tengah sawah. Yuk, kita telusuri satu per satu, siapa tahu jadi inspirasi buat cari ole-ole yang beda dari biasanya.

Gondang Sabangunan: Orkestra Sakral yang Menghubungkan Bumi dan Langit

Nggak berlebihan kalau dibilang Gondang Sabangunan ini adalah jantungnya musik tradisional Batak Toba. Ini bukan satu alat musik tunggal, melainkan sebuah ensembel lengkap yang biasanya dimainkan dalam konteks upacara adat serius, seperti kematian (mangongkal holi), pesta pernikahan, atau ritual penyembahan. Bunyinya yang megah dan mistis bikin merinding, karena memang fungsinya sebagai media komunikasi dengan dunia roh leluhur (sombaon).

Ensembel ini terdiri dari beberapa alat musik kunci:

  • Taganing: Ini semacam set drum (gendang) lima buah yang dimainkan oleh satu orang. Pemain taganing (disebut paraganing) itu orangnya pinter banget, karena dia yang jadi konduktor, menentukan ritme dan dinamika seluruh ensembel. Bunyi dari kelima taganing ini punya makna dan nama masing-masing.
  • Gordang: Satu atau dua gendang besar yang bunyinya paling bass. Fungsinya ngasih ketukan dasar yang dalam dan berwibawa, kayak pondasinya musik.
  • Sarune: Alat musik tiup sejenis oboe atau shawm, terbuat dari kayu dengan pangkal logam. Suaranya melengking, tajam, dan emosional banget. Sarune ini yang bikin melodi utama (disebut uning-uningan).
  • Ogung: Sekumpulan gong yang jadi penanda siklus musik. Ada ogung induk (paling besar), ogung oloan, ogung doal, dan ogung panggora. Bunyinya yang berdentang-dentang itu yang bikin suasana jadi khidmat.
  • Hesek: Alat perkusi sederhana dari dua potong besi atau kayu yang dipukulkan. Fungsinya ngasih ketukan konstan, kayak metronom alamiah.

Nah, yang bikin unik, memainkan Gondang Sabangunan itu ada aturannya, https://legacy-pac.org nggak bisa asal gebuk. Harus ada ulos (kain tenun khas Batak) yang dipersembahkan ke pemain musik sebagai bentuk penghormatan dan permintaan.

Alat Musik Tiup: Suara yang Menggetarkan Hati

Selain Sarune yang sudah melegenda, ada beberapa alat musik tiup lain yang punya karakter kuat.

Sarune Bolon vs Sarune Etek

Sarune itu ada dua jenis utama. Sarune Bolon (besar) ya yang dipakai di Gondang Sabangunan tadi, suaranya lebih berat dan berwibawa. Sementara Sarune Etek (kecil) lebih sering dipakai dalam musik hiburan atau pengiring tari, suaranya lebih tinggi dan lincah, sering ditemani oleh gendang gendang singanaki.

Sordam: Seruling Batak yang Romantis

Kalau Sarune suaranya melengking, Sordam ini lebih lembut dan merdu. Bentuknya seruling bambu dengan enam lubang nada. Sordam ini alat musik yang sangat personal, sering dimainkan sendirian buat menghibur diri atau mengungkapkan perasaan. Bunyinya yang sendu cocok banget buat temani sore di pinggir Danau Toba. Sordam juga jadi instrumen utama dalam ensembel uning-uningan yang lebih kecil dan intim.

Alat Musik Petik dan Gesek: Melodi yang Mengalun Lembut

Nggak cuma tiup dan pukul, masyarakat Sumut juga punya alat musik berdawai yang bikin merdu.

Hasapi: Kecapi Batak yang Mendayu

Ini dia kecapi khas Batak Toba. Hasapi punya dua dawai dan dimainkan dengan dipetik. Ada dua jenis: Hasapi Ende (lead) yang memainkan melodi, dan Hasapi Doal (rhythm) yang ngasih iringan. Bunyinya jernih dan intim, sering dipadukan dengan suling atau vokal dalam kelompok musik unung-unung. Hasapi ini simbol kehalusan dan kedalaman rasa.

Arbab: Biola Tradisional yang Hampir Punah

Nah, ini salah satu harta yang langka. Arbab adalah alat musik gesek tradisional masyarakat Melayu dan Simalungun. Badannya dari tempurung kelapa, ditutup kulit tipis, dengan leher dari kayu dan dua dawai dari serat tanaman. Dimainkan dengan busur (gesek) dari rotan dan serat. Arbab dulu jadi pengiring cerita rakyat atau lagu-lagu tradisional, tapi sekarang sangat sulit ditemui pemainnya. Upaya pelestariannya sedang gencar dilakukan.

Alat Musik Pukul Lainnya: Ritme yang Menghentak

Selain yang udah disebut di Gondang, masih ada beberapa alat musik pukul yang menarik.

Garantung (Grantang): Xylophone Kayu Khas Batak

Garantung adalah sejenis xylophone atau gambang yang terbuat dari bilah-bilah kayu khusus (biasanya kayu ingul) yang digantung di atas kotak resonator. Bilahnya biasanya lima sampai tujuh, dimainkan dengan dua pemukul kayu. Garantung bisa memainkan melodi dan ritme sekaligus, dan sering jadi pengiring tari tortor atau musik hiburan. Bunyinya yang gemerincing dan cerah bikin suasana jadi semangat.

Gendang Singanaki dan Gendang Sidua-dua

Di luar konteks Gondang Sabangunan, gendang-gendang kecil juga punya peran. Gendang Singanaki (gendang kecil satu) sering dipasangkan dengan Sarune Etek. Sementara Gendang Sidua-dua (dua gendang) dimainkan oleh satu orang, satu untuk ketukan dasar, satu untuk variasi, biasanya buat tari atau mars gondang.

Alat Musik Sumatera Utara di Luar Etnis Batak

Sumut itu multietnis, jadi alat musiknya juga beragam. Dari pesisir Timur, masyarakat Melayu punya Gendang Panjang dan Marwas (rebana kecil) yang dipakai dalam musik Zapin dan Melayu. Suku Nias punya Fatao (gong) dan Doli-doli (sejenis gambang) yang ritmenya kuat dan heroik, mencerminkan budaya masyarakat pejuang. Suku Karo punya Gendang Lima Sendalanen (lima gendang) dan Kulcapi (kecapi Karo) yang punya karakter berbeda dengan alat musik Batak Toba.

Fungsi yang Lebih Dari Sekadar Hiburan

Di sini letak keistimewaannya. Alat musik Sumatera Utara, terutama yang sakral seperti Gondang, punya fungsi sosial-budaya yang dalam:

  • Media Ritual dan Keagamaan: Untuk memanggil roh leluhur, menyembah dewata, atau bagian dari upacara adat besar.
  • Pengiring Tari Tortor: Tortor bukan sekadar tari. Itu adalah media doa dan penyampaian pesan. Gerakannya nggak bisa lepas dari alunan gondang.
  • Komunikasi: Di masa lalu, pola tabuhan gendang tertentu bisa jadi sinyal atau pesan untuk warga desa.
  • Identitas dan Kebanggaan: Setiap kelompok etnis punya bunyi khas yang jadi identitas mereka.
  • Terapi dan Penyembuhan: Dalam beberapa kepercayaan, alunan musik tertentu dipercaya bisa mengusir roh jahat atau menyembuhkan penyakit.

Nasib di Era Digital dan Upaya Melestarikannya

Jujur saja, banyak dari alat musik ini yang pemain aslinya sudah sepuh. Generasi muda lebih tertarik sama gitar atau DJ controller. Tapi, ceritanya nggak berakhir suram. Banyak komunitas dan seniman muda Batak yang justru membawa alat musik tradisional ini ke panggung yang lebih modern. Mereka kolaborasi dengan genre musik kekinian, dari jazz sampai rock. Ada juga yang bikin konten kreatif di media sosial. Belajar memainkannya juga mulai banyak peminat, meski butuh komitmen serius.

Buatan tangan para pengrajin alat musik tradisional ini juga mulai dilirik sebagai benda seni bernilai tinggi, nggak cuma sekadar alat. Sebuah hasapi atau sarune yang dibuat dengan detail bisa jadi karya masterpiece.

Kalau Mau Lihat atau Beli, Harus Kemana?

Kalau kamu penasaran pengen liat langsung atau bahkan punya satu untuk koleksi, beberapa tempat ini bisa jadi tujuan:

  1. Pusat Kerajinan di Huta Bolon (Samosir): Banyak pengrajin yang masih bikin taganing, ogung, atau sarune dengan teknik tradisional.
  2. Toko Oleh-oleh Khusus di Medan: Beberapa toko di sekitar Jl. Sutomo atau Pusat Oleh-oleh Merdeka Walk kadang menyediakan miniatur atau alat musik asli.
  3. Acara Adat atau Festival Budaya: Momen terbaik buat liat pertunjukan asli adalah saat ada pesta adat (horja) atau festival seperti Danau Toba Festival.
  4. Sanggar Seni: Banyak sanggar seni di Medan, Parapat, atau Balige yang dengan senang hati memperkenalkan alat musik ini, bahkan ngasih workshop singkat.

Jadi, lain kali jalan-jalan ke Sumut, coba perdalam telinga kamu. Dengarkan dentangan ogung dari sebuah pesta adat, atau alunan sordam dari kejauhan. Itu adalah suara asli Sumatera Utara, cerita yang dibawakan bukan dengan kata-kata, tapi dengan getaran kayu, logam, dan nafas. Dan siapa tahu, kamu pulangnya nggak cawa baju kaos, tapi sebuah hasapi kecil atau sordam yang ceritanya bisa kamu lanjutkan di rumah.