Lebih Dari Sekadar Terjemahan: Makna yang Tersembunyi di Balik “Fabiayyi Ala i Robbikuma Tukadziban”

Kalau kamu pernah membaca Al-Qur'an, khususnya surat Ar-Rahman, pasti mata dan hati akan berhenti sejenak pada satu ayat yang diulang-ulang berkali-kali. Iya, itu dia: "Fabiayyi ala i robbikuma tukadziban". Bunyinya begitu puitis, berirama, dan terasa sangat dalam. Tapi, apa sih sebenarnya arti dari kalimat yang sering disebut sebagai "jantung" dari Surat Ar-Rahman ini? Jangan cuma berhenti di terjemahan harfiahnya, "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?". Karena, di balik lima kata Arab itu, tersimpan lautan makna yang bisa mengubah cara kita memandang hidup sehari-hari.

Mengapa Surat Ar-Rahman dan Ayat Ini Begitu Spesial?

Surat Ar-Rahman itu unik. Dari awal sampai akhir, ia seperti sebuah puisi agung yang mendaftar anugerah Allah di alam semesta, dari langit yang ditinggikan, matahari dan bulan yang beredar, hingga buah-buahan dan biji-bijian. Dan setiap kali satu atau dua nikmat itu disebut, langsung diikuti dengan pertanyaan retoris yang menggema: "Fabiayyi ala i robbikuma tukadziban". Pengulangannya bukan tanpa maksud. Ia seperti ketukan ritmis yang semakin dalam menusuk kalbu, mengajak kita untuk benar-benar merenung, "Iya ya, nikmat yang mana sih yang selama ini aku anggap remeh atau bahkan aku dustakan keberadaannya?"

Pertanyaan ini tidak ditujukan kepada orang kafir saja. Justru, kita yang mengaku beriman seringkali menjadi sasaran utamanya. Kita bisa saja hafal terjemahannya, tapi dalam praktik hidup, kita 'mendustakan' nikmat itu dengan cara kita sendiri.

Arti Kata per Kata: Membongkar Lapisan Pertama

Mari kita urai perlahan:

  • Fa: Maka (kata sambung yang menunjukkan konsekuensi).
  • Biayyi: Dengan yang mana (kata tanya untuk memilih).
  • Ala i: Nikmat-nikmat (bentuk jamak dari 'ni'mah').
  • Robbikuma: Tuhan kamu berdua (merujuk pada jin dan manusia, dua khalifah di bumi).
  • Tukadziban: Kamu berdua mendustakan.

Jadi, terjemah lengkapnya memang, "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?". Tapi, kata 'mendustakan' di sini punya spektrum makna yang luas banget.

Bentuk "Pendustaan" Nikmat yang Sering Tidak Kita Sadari

Nah, ini bagian yang bikin merinding. Mendustakan nikmat itu nggak cuma berarti bilang, "Ah, itu bukan dari Allah!" atau mengingkari keberadaan Tuhan. Bagi kita yang hidup di zaman sekarang, bentuk 'tukadziban'-nya lebih halus, dan karena itu lebih berbahaya.

1. Menganggap Nikmat itu Hasil Usaha Sendiri Semata

Kita dapat pekerjaan bagus, lulus dengan nilai memuaskan, bisnis lancar. Lalu di dalam hati kecil, ada bisikan, "Ini semua karena kerja kerasku, karena kepintaranku, karena strategiku yang jitu." Kita lupa bahwa kesehatan untuk bekerja, otak yang bisa berpikir, dan bahkan kesempatan itu sendiri adalah platform yang diberikan Allah. Ini adalah bentuk pendustaan yang sangat umum. Kita mengakui nikmat, tapi 'mendustakan' Sang Pemberi Nikmat.

2. Mengeluh dan Selalu Merasa Kekurangan

Punya rumah tapi mengeluh belum punya mobil. Punya mobil mengeluh belum punya yang lebih mewah. Punya kesehatan mengeluh soal penampilan. Fokus kita selalu pada apa yang belum ada, alih-alih mensyukuri lautan yang sudah ada. Sikap ini pada dasarnya menyiratkan, "Nikmat yang Kau beri ini belum cukup, Tuhan." Bukankah ini juga sebuah bentuk pengingkaran terhadap kecukupan dan kebijaksanaan Allah?

3. Menggunakan Nikmat untuk Melanggar Perintah-Nya

Ini mungkin yang paling ironis. Kekayaan yang seharusnya jadi alat bersyukur dan berbagi, malah digunakan untuk hal-hal maksiat. Kesehatan digunakan untuk berbuat dosa. Waktu luang dihabiskan untuk hal yang sia-sia. Intinya, kita menggunakan 'amunisi' pemberian Allah untuk melawan aturan-aturan-Nya. Ini adalah pendustaan tingkat tinggi.

4. Lalai dan Tidak Mengingat-Nya

Nikmat terbesar setelah iman adalah kehidupan itu sendiri. Setiap tarikan napas adalah anugerah. Tapi, berapa banyak dari kita yang benar-benar mengingat Allah di setiap hela nafas? Kesibukan duniawi sering membuat kita 'lupa' bahwa semua ini adalah pinjaman. Kelalaian adalah bentuk pendustaan pasif yang pelan-pelan menggerus keimanan.

Surat Ar-Rahman: Sebuah Dialog Langsung dengan Hati Nurani

Keindahan Surat Ar-Rahman adalah ia tidak menggurui. Ia tidak memaksa. Ia hanya menyajikan fakta-fakta tentang alam semesta dan diri kita sendiri, lalu bertanya dengan lembut, "fabiayyi ala i robbikuma tukadziban". Pertanyaan itu ia lontarkan berulang, seolah memberi kita jeda untuk menjawab di setiap tahap nikmat yang disebutkan.

Bayangkan seperti seorang sahabat yang menuntun kita:

  1. "Aku yang mengajarkan Al-Qur'an, menciptakan manusia, mengajarnya berbicara. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
  2. "Aku yang menundukkan matahari dan bulan, yang menumbuhkan pepohonan dan bunga-bunga. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
  3. "Aku yang memberikan laut dengan segala isinya, yang menciptakan langit dengan kemegahannya. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

Setiap kali kita membaca atau mendengarnya, seharusnya ada jawaban dalam hati: "Tidak satupun, Ya Rabb. Aku akui semua ini dari-Mu."

Membawa "Fabiayyi Ala i Robbikuma Tukadziban" ke Dalam Keseharian

Lalu, gimana caranya agar ayat ini nggak cuma jadi bacaan, tapi jadi 'alarm kesadaran' dalam hidup kita?

Pertama, Jadikan Ia sebagai Mantra Syukur

Setiap kali kamu menikmati sesuatu—segelas air dingin di siang hari, tawa bersama keluarga, penyelesaian sebuah tugas—diam sejenak dan tanyakan pada dirimu sendiri dalam hati: "Kalau aku ditanya fabiayyi ala i robbikuma tukadziban tentang nikmat yang baru saja aku rasakan ini, apa jawabanku?" Latihan kecil ini akan secara drastis meningkatkan radar syukurmu.

Kedua, Gunakan untuk Melawan Rasa Iri dan Tidak Puas

Ketika melihat orang lain dapat lebih, dan rasa iri mulai menggerogoti, ingatlah daftar nikmat pribadimu. Allah sedang bertanya padamu, "Dengan nikmat-Ku yang mana kamu tidak puas? Apakah nikmat penglihatan, pendengaran, atau akal sehat yang Kuberi padamu kurang berharga?" Pertanyaan ini bisa meluluhkan hati yang sedang dengki.

Ketiga, Refleksi Diri Sebelum Tidur

Di penghujung hari, coba evaluasi: "Hari ini, adakah nikmat Allah yang secara tidak sadar aku 'dustakan'? Mungkin dengan mengeluh berlebihan, atau dengan tidak memanfaatkan waktu dengan baik?" Ini adalah bentuk muhasabah yang sangat powerful.

Kedalaman Makna yang Menghidupkan Hati

Pada akhirnya, memahami fabiayyi ala i robbikuma tukadziban artinya lebih dari sekadar tahu terjemahannya. Ia adalah undangan untuk memiliki kesadaran tauhid yang hidup dan aktif. Ia mengajak kita untuk melihat setiap partikel dalam kehidupan sebagai tanda kasih sayang Allah, dan menuntut tanggapan dari kita: pengakuan, syukur, dan penggunaan yang benar.

Ayat ini adalah reminder bahwa kita dikelilingi oleh bukti-bukti cinta Tuhan, dari ujung rambut sampai ke penjuru langit. Pertanyaannya, freshersskiweek.com sudahkah kita membuka mata hati untuk melihatnya, atau jangan-jangan kita termasuk yang—dengan halus—masih 'mendustakan'nya? So, next time kamu baca Surat Ar-Rahman dan sampai pada ayat itu, berhentilah. Jangan buru-buru lanjut. Beri waktu hatimu untuk menjawab. Karena di situlah dialog sejati antara hamba dan Rabb-nya terjadi.