Pemimpin di Persimpangan Sejarah: Siapa Presiden Iran Sekarang dan Dinamika Kekuasaannya

Bicara tentang Timur Tengah, pasti nggak bisa lepas dari Iran. Negara yang satu ini selalu jadi pusat perhatian dunia, entah karena isu nuklir, geopolitiknya yang rumit, atau peran regionalnya yang kuat. Tapi di balik semua berita headline itu, ada sosok sentral yang memegang tampuk pemerintahan sehari-hari: Presiden Iran. Nah, siapa sebenarnya presiden iran sekarang? Jawaban singkatnya adalah Ebrahim Raisi. Tapi, ceritanya nggak sesederhana itu. Posisi presiden di Iran itu unik, penuh nuansa, dan seringkali membingungkan bagi mereka yang baru pertama kali menyelami politik negeri Mullah ini. Yuk, kita kupas lebih dalam siapa pemimpinnya, bagaimana ia berkuasa, dan tantangan apa yang sedang dihadapinya.

Ebrahim Raisi: Profil Sang "Hakim yang Tegas"

Ebrahim Raisi terpilih sebagai presiden iran sekarang pada pemilu Juni 2021, menggantikan Hassan Rouhani. Lahir di Mashhad, kota suci di Iran timur, pada tahun 1960, latar belakang Raisi sangat kental dengan warna keagamaan dan yudisial. Sejak muda, ia sudah terlibat dalam sistem peradilan pasca-Revolusi Islam 1979. Karirnya melesat cepat. Di usia 20-an, ia sudah menjabat sebagai jaksa di beberapa kota, dan namanya mulai dikenal publik—atau bagi sebagian orang, ditakuti—karena perannya dalam peradilan politik era 1980-an.

Penampilannya yang khas dengan sorban hitam dan janggut putih yang rapi bukan sekadar gaya. Sorban hitam menandakan ia seorang Sayyid, atau keturunan Nabi Muhammad, yang memberinya legitimasi religius yang kuat di mata masyarakat tradisional. Sebelum menjadi presiden, Raisi menjabat sebagai Ketua Hakim (Kepala Kehakiman) Iran. Reputasinya sebagai figur yang konservatif, keras, dan anti-korupsi (menurut pendukungnya) atau sebagai tangan besi sistem (menurut kritikus dan kelompok oposisi di luar negeri) telah mendefinisikan karirnya.

Jalan Menuju Kursi Kepresidenan

Pemilu yang membawa Raisi ke kursi kepresidenan diwarnai dengan kontroversi. Banyak calon potensial, termasuk figur moderat dan reformis, didiskualifikasi oleh Dewan Penjaga Konstitusi, badan yang beranggotakan ahli hukum dan ulama yang bertugas menyaring kandidat. Hasilnya, pemilu dianggap banyak pengamat sebagai proses yang sangat terkontrol, yang memastikan kemenangan figur yang disetujui oleh establishment kekuasaan tertinggi. Ini adalah konteks penting untuk memahami bahwa kekuasaan presiden iran sekarang punya batasan-batasan struktural yang jelas.

Presiden di Bawah Bayang-bayang Pemimpin Tertinggi

Ini mungkin bagian paling penting untuk dipahami. Di Iran, presiden bukanlah pemegang kekuasaan tertinggi. Posisi itu dipegang oleh "Pemimpin Tertinggi" atau Supreme Leader, yang sejak tahun 1989 hingga sekarang adalah Ayatollah Ali Khamenei. Presiden lebih mirip kepala eksekutif atau perdana menteri yang menjalankan pemerintahan sehari-hari, terutama di bidang ekonomi dan kebijakan domestik (dengan batasan), serta menjadi wajah diplomasi Iran ke luar negeri.

Jadi, Ebrahim Raisi sebagai presiden iran sekarang bertanggung jawab mengelola kabinet, mengusulkan anggaran, dan mengimplementasikan undang-undang. Namun, keputusan strategis tentang pertahanan, kebijakan luar negeri utama, isu nuklir, dan garis besar ideologi negara tetap berada di tangan Pemimpin Tertinggi. Militer (terutama Korps Pengawal Revolusi Islam atau IRGC) dan lembaga yudikatif juga lebih loyal kepada Pemimpin Tertinggi daripada kepada presiden. Dinamika ini sering digambarkan seperti CEO (Presiden) yang harus melapor kepada Dewan Direksi dan Pemegang Saham Utama (Pemimpin Tertinggi dan institusi di sekitarnya).

Bagaimana Raisi dan Khamenei Bekerja Sama?

Hubungan antara Raisi dan Khamenei dianggap sangat dekat. Raisi sering dilihat sebagai protege atau orang kepercayaan Khamenei. Bahkan, banyak spekulasi bahwa Raisi adalah salah satu kandidat potensial untuk menggantikan Khamenei kelak sebagai Pemimpin Tertinggi. Kedekatan ini memberi Raisi ruang gerak politik yang lebih besar dibanding pendahulunya, Rouhani, yang hubungannya dengan Khamenei lebih tegang. Namun, di sisi lain, kedekatan ini juga berarti Raisi harus sangat hati-hati dalam menjaga keselarasan kebijakannya dengan visi pusat kekuasaan.

Agenda dan Tantangan Berat di Meja Kerja Raisi

Menjadi presiden iran sekarang di masa seperti ini bukan pekerjaan mudah. Raisi mewarisi sejumlah masalah berat yang langsung menghantam meja kerjanya.

Ekonomi yang Tercekik Sanksi

Ini adalah momok terbesar. Sanksi ekonomi AS, yang diperketat setelah mantan Presiden Donald Trump keluar dari kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA), telah melumpuhkan ekonomi Iran. Inflasi meroket (pernah menyentuh lebih dari 40%), nilai mata uang Rial merosot tajam, dan pengangguran—terutama di kalangan pemuda—tinggi. Raisi berjanji menguatkan "ekonomi resistensi", yaitu lebih mandiri dan mengurangi ketergantungan pada minyak serta perdagangan luar negeri. Tapi dalam praktiknya, sangat sulit. Pemerintahannya berusaha meningkatkan hubungan dagang dengan tetangga dan kekuatan seperti Rusia dan Tiongkok, namun dampaknya terhadap kehidupan rakyat biasa masih terasa lambat.

Protes Sosial dan Tuntutan Perubahan

Kekecewaan ekonomi sering meluap menjadi protes jalanan, seperti yang terjadi setelah kematian Mahsa Amini pada tahun 2022. Protes yang dipimpin terutama oleh perempuan muda ini menantang tidak hanya kebijakan pemerintah tetapi juga norma sosial dan otoritas keagamaan. Pemerintahan Raisi merespons dengan keras, menunjukkan sisi konservatif dan keamanannya. Tantangannya adalah bagaimana menangani tuntutan generasi muda yang lebih terhubung dengan dunia luar dan mendambakan perubahan, sambil mempertahankan stabilitas dan prinsip-prinsip sistem.

Diplomasi Nuklir yang Alot

Perundingan untuk menghidupkan kembali JCPOA seperti rollercoaster yang tak kunjung berhenti. Pemerintahan Raisi pada awalnya mengambil pendekatan yang lebih keras dalam negosiasi dibandingkan Rouhani, menuntut jaminan yang lebih kuat dari AS dan pencabutan sanksi yang lebih luas. Meski ada momen-memen optimis, kebuntuan politik di Washington dan tuntutan dari Tehran membuat kesepakatan sulit tercapai. Bagi Raisi, ini adalah permainan tinggi di mana kegagalan berarti ekonomi terus terpuruk, tetapi kesepakatan yang dianggap terlalu lunak bisa membuatnya dikritik oleh faksi garis keras di dalam negeri.

Gaya Kepemimpinan dan Kebijakan Domestik

Gaya kepemimpinan presiden iran sekarang bisa dibilang lebih "ke dalam" dan administratif. Beberapa ciri khasnya:

  • Fokus pada Birokrasi dan Efisiensi: Dengan latar belakangnya di kehakiman, Raisi gencar kampanye anti-korupsi dan berusaha membuat birokrasi pemerintah lebih efisien. Ia dikenal sering melakukan inspeksi mendadak ke instansi pemerintah.
  • Konservatisme Sosial yang Kuat: Tidak seperti Rouhani yang lebih longgar dalam hal budaya, pemerintahan Raisi memperketat penegakan aturan berpakaian (hijab) dan membatasi ruang gerak media serta aktivis.
  • Populisme Ekonomi: Raisi banyak berbicara tentang pemerataan, membantu "rakyat tertindas" (mustaz'afin), dan membangun perumahan murah. Program subsidi dan bantuan langsungnya berusaha meredam dampak inflasi bagi keluarga miskin.

Persepsi Publik: Dukungan dan Kritik

Dukungan untuk Raisi terutama datang dari basis konservatif tradisional, pedesaan, dan mereka yang mengutamakan stabilitas serta nilai-nilai revolusioner. Bagi mereka, Raisi adalah figur bersih dan tegas yang dibutuhkan Iran. Sementara itu, kalangan perkotaan, kelas menengah, dan generasi muda cenderung skeptis. Mereka melihat pemerintahan Raisi sebagai kelanjutan dari establishment yang gagal membawa kemakmuran dan kebebasan. Tingkat partisipasi pemilu yang rendah dalam pemilu terakhir mencerminkan apatisme dan kekecewaan segmen masyarakat ini.

Iran di Panggung Dunia dengan Raisi sebagai Wajahnya

Di kancah internasional, Raisi berusaha menampilkan wajah Iran yang percaya diri dan tidak takut menghadapi tekanan Barat. Diplomasinya berpusat pada "Look to the East", memperdalam kemitraan strategis dengan Rusia dan Tiongkok. Ia juga aktif memperkuat hubungan dengan kekuatan regional seperti Arab Saudi (setelah berdamai), serta mendukung kelompok "Poros Resistensi" seperti Hizbullah di Lebanon dan milisi di Suriah dan Yaman. Kebijakan luar negeri ini sejalan dengan visi Pemimpin Tertinggi dan Korps Pengawal Revolusi Islam.

Namun, hubungan dengan Eropa dan AS tetap beku dan penuh kecurigaan. Isu hak asasi manusia, program rudal balistik Iran, dan dukungannya pada kelompok bersenjata di wilayah terus menjadi titik gesekan utama. Sebagai presiden iran sekarang, Raisi harus menavigasi antara kebutuhan untuk keterlibatan ekonomi dengan dunia dan komitmen pada ideologi anti-hegemoni Barat.

Masa Depan dan Warisan yang Ingin Dibangun

Masa jabatan pertama Raisi akan berakhir pada 2025, dan ia diperbolehkan mencalonkan diri untuk satu periode terakhir. Banyak yang memprediksi ia akan maju lagi. Warisan yang ingin ia bangun kemungkinan adalah: memperkuat kemandirian nasional, menjaga stabilitas sistem politik di tengah gejolak, dan memposisikan Iran sebagai kekuatan regional yang tak terbantahkan. Apakah ia akan berhasil mengatasi tantangan ekonomi yang begitu besar masih menjadi tanda tanya besar.

Yang pasti, memahami siapa presiden iran sekarang—Ebrahim Raisi—adalah memahami kompleksitas Iran modern. Ia bukan sekadar nama, tetapi simbol dari pertarungan antara tradisi dan modernitas, antara isolasi dan keterbukaan, serta antara kekuatan eksekutif dan otoritas keagamaan yang lebih tinggi. Keberadaannya mengingatkan kita bahwa politik Iran adalah permainan catur multidimensi, di mana setiap langkah presiden harus mempertimbangkan banyak bidak di papan, dengan Pemimpin Tertinggi sebagai pemain utamanya. Bagaimana permainan ini berakhir, akan menentukan tidak hanya masa depan Iran, tetapi juga guncangan di kawasan Timur Tengah dan dunia.